PSIM Tolak tanding di Solo

YOGYA (KR) - PSIM Yogya menolak bertanding di Stadion Manahan Solo dalam rangka perebutan juara III Kompetisi Divisi Utama PT Liga Indonesia (LI) melawan Persepam Pamekasan yang dijadwalkan Minggu (8/7) besok sore, menyusul insiden yang menimpa suporternya.

Begitu terjadi insiden penganiayaan dan tidak adanya jaminan keamanan, PSIM langsung menelpon pihak Badan Liga Indonesia (BLI) untuk menyampaikan keberatan dan penolakan pertandingan melawan Persepam digelar di Solo. Mengingat kondisinya tidak kondusif lagi, terutama bagi PSIM.

"Kami minta pertandingan dipindahkan ke tempat lain karena di Solo situasinyatidak kondusif lagi bagi PSIM," tegas direktur PT PSIM Jogja Yoyok Setiawan saat dihubungi KR, Jum'at (6/7).

Seperti diberitakan sebelumnya, suporter PSIM harus diamankan di Polresta Solo seusai PSIM menghadapi Persita Tangerang dalam babak semifinal di Stadion Manahan Solo, kamis (5/7) malam karena mendapat teroro, bahkan penganiayaan saat akan memberikan dukungan kepada PSIM. Para pemain PSIM juga ikut diamankan ke Polresta Solo. Laga ini sendiri dimenangkan Persita 1-0 sehingga PSIM masih harus berjuang lagi merebutkan satu tiket tersisa langsung promosi ke ISL melawan Persepam yang pada semifinal dikalahkan Barito Putera 0-2.

"Saat BLI menunjuk manahan sebagai tempat penyelenggaraan babak empat besar, kami sudah menyatakan keberatan. Tapi BLI tetap ngotot dilaksanakan di sana karena menilai tidak ada masalah lagi dengan keamanan, dan tim lain sudah ada di sana. Tapi kenyataannya tetap tidak ada jaminan keamanan dan ini sangat merugikan PSIM. Para pemain kami harus diamankan ke Polresta Solo hingga tengah malam sebelum dikawal ketat untuk kembali ke Yogya bersama Suporter. Dalam kondisi ini, jelas pemain kami sekarang dalam kondisi lelah secara fisik dan psikologis," tegas Yoyok.

Presiden Brajamusti Eko Satriyo Pringgondani mendukung sikap Manajemen PSIM yang menolak bertanding di Solo.

"Situasinya tidak memungkinkan lagi bagi PSIM untuk bertanding di Solo. Selain itu tidak ada iktikad baik dari suporter Solo yang sebenarnya tidak ada keterkaitan dengan pertandingan ini,"ungkapnya. Eko mengaku telah mendapat laporan puluhan siporter PSIM yang tidak beratribut dicegat sekelompok orang di Komplek Stadion Manahan Solo. Suporter PSIM ini kemudian dianiaya, yakni dipukul dengan tangan kosong maupun benda keras. Bahkan ada yang dibacok di bagian kepala sampai pipi sehingga harus mendapat 28 jahitan.

Korban luka bacok ini bernama Yudi Pratam, warga umbulharjo. "Selain itu ada yang mengalami luka di kepala, luka di lutut dan banyak teman-teman yang mengalami luka lebam karena pukulan'" terang Eko.

Eko berharap agar anggota Brajamusti maupun suporter PSIM lainnya untuk bisa menahan diri dan tidak perlu melakukan balas dendam karena hanya akan memperkeruh situai. "Mari tetap kita jaga citra Kota Yogya sebagai Kota Pelajar dan Pariwisata. Jangan sampai tercoreng oleh tindakan-tindakan yang tidak perlu," imbaunya.

Sementara itu Polresta Solo masih menyelidiki kasus penganiayaan terhadap suporter PSIM yogyakarta yang terjadi di kawasan Manahan Solo dan seputaran Stasiun Purwosari Solo. Wakapolresta Solo AKBP Ahmad Lutfi mengatakan,setelah sempat terjadi tawuran di kawasan Manahan dan Purwosari suasana kota Solo kembali kondusif. (Jan/Hwa)-m

Related Posts by Categories



Comments :

0 komentar to “PSIM Tolak tanding di Solo”

Posting Komentar